Perputaran Waktu menjadi momentum mengambil Ibrah semakin dekat akhir perjalanan.
Sobat InfoGres Agamis, Perjalanan waktu akan terus berjalan maju. Tak akan pernah berhenti. Tak akan pernah berulang. Apalagi surut ke belakang. Detik berubah menjadi menit. Menit berubah menjadi jam. Jam berubah menjadi hari. Hari berubah menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun. Tahun pun terus berganti, seperti halnya tahun 1447 H yang telah berganti menjadi tahun 1448 H...
Perjalanan waktu adalah sunnatullah yang pasti terjadi. Perputarannya adalah arus yang tak bisa terbendung. Anak-anak berjalan menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua adalah sebuah ketentuan dalam kehidupan. Namun, sebagai seorang Muslim, hendaknya berupaya mengambil pelajaran di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (QS. An Nur: 44)
Ayat ini menyebutkan bahwa pergantian malam dan siang terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan hati. Bergulirnya waktu seharusnya menjadi renungan bagi kita untuk mengambil berbagai _ibrah_ (pelajaran) di dalamnya...
Terhadap pergantian tahun hijriyah, biasanya, ada tiga kelompok orang yang memiliki perbedaan sikap dalam menghadapinya.
Ada sebagian orang yang menganggap pergantian tahun hijriyah sebagai sebuah momen suci yang harus dirayakan. Bertambahnya masa yang bisa dinikmati. Untuk itu, mereka memiliki banyak cara untuk memeriahkannya. Ada yang mengisi malam pergantian dengan cara mengeluarkan dan membersihkan berbagai benda pusaka. Mereka ingin menikmati detik-detik pergantian tahun dengan cara yang sakral.
Bagi sebagian orang yang lain, pergantian tahun hijriyah tak ada bedanya dengan pergantian hari yang selalu mereka lewati kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bulan lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Hanya pergantian dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Tak ada yang spesial atau istimewa. Yang mereka lakukan ketika malam pergantian tahun hijriyah adalah apa yang mereka lakukan seperti di malam-malam biasa. Yang biasa tidur, mereka akan tertidur. Yang biasa melakukan hal lain, mereka akan melakukan aktifitas tersebut.
Ada pula sebagian orang yang menyikapi pergantian tahun hijriyah dengan sebuah perenungan bahwa sisa waktu yang tersedia dalam bentuk usia mereka semakin berkurang. Pergantian waktu hanya akan membuat mereka semakin dekat dengan sebuah akhir perjalanan.
Mereka melakukan evaluasi atas apa yang sudah terjadi dan apa yang telah mereka lakukan selama tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. Mereka menghitung-hitung berapa jumlah kebaikan di dalamnya. Mereka juga mengkalkulasi berapa jumlah keburukan di dalamnya. Lalu mereka akan menemukan jumlah mana yang lebih banyak...
Tak hanya sampai di situ. Jika mereka menemukan jumlah kebaikan yang lebih banyak, mereka akan mempersiapkan diri untuk menjalani hari-hari ke depan agar mereka bisa mempertahankan kebaikan-kebaikan tersebut. Jika mampu, mereka akan menambahkan lagi jumlah kebaikan tersebut agar lebih banyak. Sebaliknya, jika mereka menemukan keburukan yang lebih banyak jumlahnya, mereka akan melakukan introspeksi diri. Mereka akan berusaha untuk tidak mengulangi keburukan yang sama di hari-hari berikutnya. Bahkan mereka akan mempersiapkan diri agar tak akan ada lagi keburukan di masa depan. Agar mereka bisa selamat dan bahagia di masa yang tak abadi dan di masa yang berkekalan. Lantas di kelompok manakah kita berada?
Terlepas dari kita berada di kelompok mana, di pergantian tahun hijriah ini menjadi momentum yang tepat untuk melakukan perbaikan dalam segala aspek kehidupan. Sebagai refleksi di tahun baru 1448 H ini ada baiknya kita memperhatikan nasehat dari Hasan Al-Bashri rahimahullah,
أكثروا مِنَ الإستغفار ، فإنَّكم لاتدرون متى تنزل الرحمة
وقال لقمان لابنه
يابُنَيَّ عَوّد لسانك الإستغفار ، فإنّ لله ساعات لايرد بها سائلاً
"Perbanyaklah beristighfar, karena kalian tidak tahu kapan rahmat Allah turun. Berkata Lukman kepada puteranya: "Hai puteraku biasakanlah lisanmu dengan istighfar, karena Allah memiliki waktu-waktu yang di dalamnya Dia tidak menolak orang yang memohon." "(Lathaif al-Ma'arif, Ibnu Rajab, 291)
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa melakukan perenungan, mengambil hikmah dan memperbaiki diri dari setiap peristiwa yang terjadi untuk meraih ridha-Nya.
